Arti Filosofi Lagu Genjer - Genjer (PKI) yang Sebenarnya

Arti Filosofi Lagu Genjer - Genjer (PKI) yang Sebenarnya

Sebenarnya lagu Genjer-genjer yang berasal dari Banyuwangi tidak berbeda dibanding lagu rakyat lainnya. Sama seperti Padhang Bulan dari Jawa atau A Sing Sing So dari Batak. Namun 'sejarahnya' membuat Genjer-genjer berbeda. Setidaknya tampak berbeda di mata politik kekuasaan.


Baca Juga: Makna Filosofi Lagu Ilir-ilir Karya Sunan Kalijaga

Akhir pekan kemarin sebuah Band Reggae di Mojokerto terpaksa ditahan akibat lantunkan Genjer-genjer. Pentas musik pun dibubarkan polisi. Tentu beragam pertanyaan muncul dari penonton yang didominasi remaja belasan tahun, apa yang salah dengan lagu ini?

Ya, mungkin sebagian di antara mereka sudah mengerti perkaranya. Begitulah nasib karya yang melintasi 3 zaman dan selalu terpolitisasi, sejak pendudukan Jepang, Orde Lama, Orde Baru hingga hari ini. Liriknya yang satire ditulis dalam bahasa Osing oleh seniman angklung asal Banyuwangi, Muhammad Arief pada 1940-an. Aransemennya, menurut sejumlah sumber, berasal dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”.

Lagu dengan ini menggambarkan kondisi rakyat Indonesia di zaman pemerintahan Jepang. Genjer (Limnocharis flava), tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa, sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli lauk yang layak. Laiknya para seniman, M. Arif menulis syair Genjer-genjer sebagai kritik sosial terhadap penguasa Jepang. Sama halnya bila kita mendengar lagu-lagu Iwan Fals dan karya seni bertema kritik sosial lainnya.


Makna Filosofi Lagu Genjer – Genjer yang Sebenarnya
Lagu ini sebenarnya  berbahasa jawa,  didalam lagu ini menceritakan tentang  kondisi rakyat yang semakin sesangsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging diera masa pendudukan jepang.

Bermula sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.

Lirik Lagu Genjer - Genjer

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tolah-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar
Emak'e jebeng podho tuku nggowo welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Terjemahan Bahasa Indonesia
Berikut arti lirik lagu "Genjer-Genjer" dalam Bahasa Indonesia: 

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Ibu si bocah datang memunguti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Arti Filosofi Lagu Genjer - Genjer (PKI) yang Sebenarnya

Politisasi Genjer-genjer


Pasca kemerdekaan, lagu ini populer di jajaran lagu Indonesia. Genjer-genjer dinyanyikan kembali penyanyi pop Lilis Suryani dan Bing Slamet di bawah label Irama Record pada 1965. Karena kepopulerannya pada masa Demokrasi Terpimpin itu, Partai Komunis Indonesia (PKI) menggunakan lagu ini sebagai kampanye partai, guna meningkatkan popularitasnya di kalangan akar rumput. Lagu menggambarkan penderitaan warga desa ini menjadi propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kegiatan Partai. Saat itulah orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai 'lagu PKI'.

Pasca Gerakan 30 September 1965, semua yang identik dengan PKI disingkirkan. Tidak terkecuali lagu yang menggambarkan penderitaan orang desa itu berbuah perlawanan terhadap pemerintah. Sama nasib dengan penciptanya, M. Arief, yang digelandang dari rumahnya di Banyuwangi pasca G 30 S/PKI, karena dituduh sebagai anggota PKI, dan tak pernah kembali.

Momok Genjer-genjer juga dimunculkan dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Digambarkan para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini saat para jendral disiksa. TAP MPRS XXV/1966 tentang Larangan Paham Komunisme di Indonesia dimunculkan untuk mempertegas penolakan terhadap PKI.


Plesetan dari jendral-jendral

Plesetan lagu “Genjer-Genjer” menjadi “Jendral-Jendral” pun menambah satu alasan yang menguatkan lagu ini memang identik dengan PKI. Khusunya ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, diduga juga memplesetkan lagu "Genjer-Genjer" menjadi "jendral-jendral", sehingga maknanya menjadi berbeda dengan versi alsinya. Dengan alasan itu, semakin mempertegas lagi lagu ini untuk segera dicekal dan dilarang peredarannya. Padahal, beberapa seniman di Banyuwangi yang pertama kali mempopulerkan lagu ini, merasa tidak tau apa-apa tentang plesetan lirik lagu ini, dan merasa heran oleh pihak - pihak yang mendiskreditkan lagu ini.

Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan, seperti berikut:

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Akibat penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumi hanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis.


Awas PKI Bangkit?


Belakangan isu PKI mencuat kembali seiring perjuangan HAM para keluarga korban tragedi 1965. Bagi sejumlah pihak, ini adalah kekhawatiran besar, PKI muncul lagi. Baju, pin, stiker bergambar Palu-Arit (lambang komunis), yang muncul seiring euforia Reformasi, mulai dirazia. Buku-buku 'kiri' yang di era Orba dilarang, bebas beredar di awal Reformasi, kembali lagi disita. Foto sejumlah remaja duduk di atas patung pahlawan di Sumatera Utara turut dikaitkan dengan isu bangkitnya komunis.

Ya, harus diakui kesalahan remaja itu adalah kurang pemahaman dan penghormatan kepada sejarah. Namun, hari ini kesalahan remaja itu dua kali lipat. Patung pahlawan yang mereka duduki itu adalah Letda Sujono yang gugur saat mempertahankan area kebun dari massa Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi sayap PKI, pada 14 Mei 1965. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan Peristiwa Bandar Betsy.

Itulah nasib Si Genjer-genjer, diciptakan, disukai, dibenci sekaligus ditakuti. 

Sekian update informasi kali ini sputar Sejarah Lengkap dan Arti Filosofi Lagu Genjer - Genjer. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan anda semua. Salam.

0 Response to "Arti Filosofi Lagu Genjer - Genjer (PKI) yang Sebenarnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel