Makna Filosofi Permainan Congklak (Dakon)


Makna Filosofi Permainan Congklak (Dakon)

Makna Filosofi PermainanTradisional Congklak (Dakon)
Thefilosofi.blogspot.com - Taukah kawan, permainan unik yang satu ini? Saya yakin pasti di masa kecil kawan-kawan, terutama yang cewek, pernah memainkan congklak. Congklak punya beberapa nama, seperti dakon, bantumi, atau juga disebut Mancala.


Sejarah Permainan Congklak
Konon permainan ini pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh pendatang dari arab yang rata-rata datang ke Indonesia untuk berdagang atau berdakwah.
 
Berdasar Hasil Penelitian, para arkeologi dan beberapa ahli percaya bahwa permainan ini berasal di Timur Tengah dan menyebar dari sana ke Afrika. Kemudian, penyebaran permainan ke Asia dengan pedagang Arab dan datang ke Karibia sekitar 1640 melalui perdagangan budak Afrika.
 
Murray, seorang Sarjana Arkeologi mencatat, menelusuri asal-usul ke Mesir kuno Kekaisaran Umur (sekitar 15 sampai abad 11 SM) sudah terdapat permainan pada jaman tersebut. Banyak ahli menduga bahwa Congklak mungkin sebenarnya papan permainan tertua yang pernah.
 
Pada umumnya jumlah lubang keseluruhan adalah 16 yang dibagi menjadi 7 lubang kecil dan 2 lubang tujuan dengan masing-masing satu untuk setiap pemain. Skor kemenangan ditentukan dari jumlah biji yang terdapat pada lubang tujuan tersebut.
 
Sebenarnya permainan ini mempunyai banyak nama, didaerah Sumatera dikenal dengan nama Congkak. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan.
 
Sedangkan di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban dan didaerah Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Dan dalam bahasa arab dinamakan Mancala yang apabila dimaknai ke dalam bahasa Inggris "untuk bergerak”
 
Pada seni permainan ini hanya bisa dilakukan oleh dua orang dengan menggunakan papan yang dinamakan papan congkak dan menggunakan semacam buah biji dengan disebar ke dalam 7 lubang kecil masing-masing, buah biji ini dinamakan biji congkak atau buah congkak.
 
Umumnya papan congkak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Sedang cara memainkannya adalah Setiap pemain mengambil semua biji yang terdapat pada lubang kecil yang di inginkan, untuk disebar satu biji per lubang berurutan searah jarum jam. Langkah tersebut dilakukan berulang.
 
Apabila pada lubang terakhir meletakkan biji masih ada bijinya maka pemain tersebut melanjutkan dengan mengambil semua biji yang terdapat pada lubang tersebut dan melanjutkan permainan. Apabila peletakan biji terakhir berada pada lubang yang kosong maka pemain tidak dapat melanjutkan langkah dan tidak mendapat apas-apa, Giliran untuk bermain ke lawan.
 
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain).  Pemainnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

Kawan, taukah ? 
Dibalik permainan ini ternyata mengadung filosofi yang indah dari nilai kebudayaan bangsa Indonesia. Biji congklak yang dikumpulkan dari lubang-lubang kecil ke lubang yang paling besar adalah simbolisasi dari padi atau hasil tanam penduduk desa. Kemudian dipanen dan disimpan ke dalam lumbung untuk persediaan bahan pangan penduduk.
Masih ingat berapa jumlah lubang kecil di masing-masing sisi?
Ada 7 lubang dan masing-masing berisi 7 biji. 7 adalah jumlah hari dalam satu minggu. Jumlah biji yang ada pada lubang kecilpun sama. Artinya, tiap orang mempunyai jatah waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.
Ketika biji diambil dari satu lubang, ia mengisi lubang yang lain, termasuk lubang induknya. Pelajaran dari fase ini adalah, tiap hari yang kita jalani, akan mempengaruhi hari-hari kita selanjutnya, dan juga hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi sangat bermakna pula bagi orang lain.
Biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak bisa mengambil terus, kalau tidak memberi.
Biji diambil satu persatu, tidak boleh semua sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lubang kita. Kita harus jujur mengisi hidup kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan baik, lebih baik daripada banyak namun tidak jujur. Satu persatu biji yang diisi juga bermakna bahwa kita harus menabung tiap hari untuk hari-hari berikutnya. Kita juga harus mempunyai “simpanan/tabungan”, yaitu biji yang berada di lubang induk.
Strategi diperlukan dalam permainan ini agar biji kita tidak habis diambil lawan. Hikmahnya adalah, hidup ini adalah persaingan, namun bukan berarti kita harus bermusuhan. Karena tiap orang juga punya kepentingan dan tujuan yang (mungkin) sama dengan tujuan kita, maka kita harus cerdik dan strategis.
Pemenang adalah yang jumlah bijinya di lubang induk paling banyak, maksudnya adalah mereka yang menjadi pemenang/ mereka yang sukses adalah mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Mereka yang banyak tabungan kebaikannya, mereka yang menabung lebih banyak, dan mereka yang tahu strategi untuk mengumpulkan rezeki.
 
Sedangakan dari pendidikan bagi anak, permainan coklak dapat dijadikan media pendidikan Matematika kelas I yang masih transisi dari TK ke SD. Karena dapat memperkenalkan metode berhitung dengan memakai media permainan ini.
 
Selain juga dapat memberikan pendidikan saling menghargai sesama teman karena bergantian mengisi lubang congklak. Mereka juga dilatih sabar mengisikan congklak dengan hati-hati, satu per satu.
 
Dari berbagam makna filosfi yang ada pada seni permainan tradional ini Anda akan diajak untuk memahami bersabar, berpikir, dan ulet dalam proses hidup dan kehidupan dalam mencapai puncak akhir kehidupan yang di simbolkan dengan terpenuhinya lubang besar atas biji-biji congklaknya. 
Nah, ternyata permainan sederhana ini punya makna yang tidak sederhana, bukan?
(Sumber: hitamputih02.wordpress.com)
Sekian update informasi kali ini seputar Makna Filosofi Permainan Congklak (Dakon). Semoga bermanfaat. Salam.

0 comments:

Post a Comment